Teknik BOULDERING Dan Persiapannya

Diawali langkah Don Robinson pada tahun 1990 di Leeds University dengan mempelopori dibuatnya dinding panjat tebing buatan pertama yang diberi nama Achertrust, sejak saat itu pelan tapi pasti panjat tebing mengalami evolusi dari sekedar aktifitas petualangan dengan media tebing alam menjadi sebuah cabang olahraga yang dapat dipertandingkan, Sehingga lambat laun panjat tebing yang awalnya merupakan bagian dari mountainering akhirnya independent terpisah dan kemudian terkenal dengan media alam tebing-tebing alam, baik yang kering ( Tropic Climbing ) maupun yang bersalju ( Ice Climbing ). 

Perkembangan pesat panjat tebing di luar negeri membawa pengaruh besar
ke Indonesia meskipun masih dalam tahap awal yang diperkenalkan oleh Harry Suliztiarto pada tahun 70-an dengan memanjat tebing-tebing alam berbatuan karst di desa Citatah, Padalarang, Jawa Barat. Panjat tebing semakin berkembang baik di Indonesia dari segi petualangan dan semakin berkembang baik menjadi extreme sport yang bernilai prestasi sejak diadakannya perlombaan panjat tebing alam di pantai Djimbaran, Bali pada tahun 1987. Sejak diperkenalkannya panjat tebing buatan oleh para pemanjat Prancis pada awal tahun 90-an yang diikuti dengan dimulainya kejuaraan nasional panjat tebing yang pertama di Bintaro dengan papan panjat setinggi 15m, panjat tebing benar-benar telah mendapat tempat bagi pemuda Indonesia.
Pada umunya panjat tebing dalam metodenya dibagi menjdi 2 metode yaitu: 
  1. Metode memanjat dengan menggunakan pengaman.
  2. Metode memanjat tanpa menggunakan pengaman.  
Bouldering diartikan sebagai sistem pemanjatan tanpa menggunakan alat sebagai pengaman dan penambah ketinggian. Pengertian ini memang hampir sama dengan sistem pemanjatan free soloing tetapi ada dua catatan yang membedakannya. Pertama, biasanya arah ketinggian maksimal bouldering adalah tiga meter. Kedua, arah memanjat bouldering adalah menyamping.

Bouldering biasa dilakukan untuk melakukan warming up sebelum melakukan pemanjatan yang sebenarnya juga dilakukan untuk melatih teknik-teknik pemanjatan baik berupa penggunaan kaki, tangan dan badan juga gerakan-gerakan lain yang diperlukan dalam pemanjatan, selain itu bagi para pecinta panjat tebing, bouldering dianggap sebagai sebuah kreasi karena dengan melakukannya akan mendapatkan satu nilai kepuasan tersendiri.

Seiring dengan perkembangan kompetisi panjat tebing, bouldering kini menjadi salah satu nomor panjat tebing yang kini menjadi salah satu nomor panjat tebing yang biasa dipertandingkan seperti dalam X-Games Competition ( sebuah kompetisi internasional yang biasa mempertandingkan olahraga ekstrim ) dan kejuaran-kejuaraan yang dilakukan oleh UIAA ( Asosiasi panjat tebing internasional ) bahkan kompetisi tradisional panjat tebing alam yang dilakukan di Amerika Serikat di jalur pemanjatan tebing alam Yosemite dan Dolosemite ( Kompetisi ini merupakan salah satu kompetisi panjat tebing alam tertua di dunia ) Bouldering menjdi salah satu nomor yang dipertandingkan, dan dari kompetisi bouldering inilah nama Chris Sharma menjadi legenda karena merupakan pemanjat termuda yang dapat memecahkan jalur tersulit pada jalur Yosemite.

Karena merupakan bagian dari exstreme sport yang banyak mengandung resiko dalam pelaksanaannya, maka prosedur-prosedur dalam melakukannya harus benar-benar diperhatikan.

Beberapa prosedur melakukan bouldering yang biasa dijadikan acuan adalah :
  1. Spotter ( orang yang menahan atau mengarahkan ), kehadiran satu atu dua orang teman sangat baik untuk menahan kepala, leher dan punggung saat terjatuh ke tanah sehingga laju dari jatuhnya tubuh tidak terlalu keras dan aman. Tugas seorang Spotter tidak hanya menangkap atau menahan pemanjat tetapi dia juga harus mampu mengarahkan dan membaca arah gerakan jatuh seorang pemanjat dalam melakukan bouldering.
  2. Landing ( tempat mendarat ), penilaian untuk lokasi mendarat pada bouldering sebenarnya sangat mudah, misalnya apakah tempat itu datar dan bebas dari sesuatu yang bisa membuat pergelangan kaki atau tangan menjadi cidera/terkilir saat terjatuh, atau apakah banyak batu atau kerikil yang berserakan sehingga membahayakan posisi Spotter saat melakukan tugasnya.
  3. Exposure ( daerah terbuka ), biasanya berhubungan dengan ketinggian, definisinya merupakan gabungan dari tempat mendarat, posisi tubuh dan cara berpikir. Cara berpikir sangat diperlukan, dan hal ini akan dipengaruhi oleh lokasi yang dipilih. Salah satu peraturan dalam bouldering adalah mengingatkan apakah anda mau meloncat saat menggapai point terakhir. Jika point terakhir itu terlalu tinggi untuk diloncati mungkin jalur itu terlalu panjang untuk jalur boulder.
  4. Descent ( daerah untuk turun ), jangan naik jika tidak tahu bagaimana turunnya. Sebelum bouldering sebaiknya jalan-jalan di sekitar lokasi untuk mencari informasi yang diperlukan atau lebih dikenal dengan orientasi medan. Meskipun telah menjadi independent dan tidak lagi menjadi bagian dari mountainering tetapi panjat tebing tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip teknik hidup alam bebas. Buldering sebagai bagian dari panjat tebing juga tidak lepas dari hal itu dalam meminimalkan resiko dengan manajemen resiko secara baik sehingga dalam melakukannya tidak bisa lepas dari objective risk factor dan subjective risk factor management agar kegiatannya dapat dilakukan dengan aman dan menyenangkan jiwa seorang pemanjat.

Archive